15/08/10

Abu Nawas dalam biografi


Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita akan nama sang tokoh kocak “Abu Nawas” saking masyhurnya nama tersebut hingga kadang kita tidak mengetahui siapa nama asli dia sebenarnya. Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya seperti Air mata Abunawas bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.


Syukur dan Sabar

Bismillahirrahmanirrahim

Kita masing-masing memiliki ladang amal,jadikan setiap peluang sebagai ladang amal kita,mari kita gunakan secermat dan sebaik-baiknya.
Alangkah indahnya jika setiap insan dapat melihat kehidupan dan keseharian sebagai kesempatan untuk beramal.. lingkungan, pekerjaan, rumah tangga bahkan kesedihan dan derita, bukankah semua itu telah di tentukan oleh-Nya? jawabnya Yah..bukankah beriman kepada takdir merupakan Rukun Iman yang penting.
karena menurut saya tidak ada yang namanya "kebetulan" di dunia ini.
Jika kita sedang di karuniai kebahagiaan, kesukaan, rezeki alangkah lebih baik jika kita bersyukur dan berbagi kebahagiaan itu dengan sesama.
Jika kita sedang di berikan penderitaan, kesukaran..alangkah baiknya kita bersabar, mari kita merenungi kesalahan, bukankah itu semua adalah cobaan dari-Nya.

"Iman terbagi dua,separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur" (HR. Al-Baihaqi)

Syukur dan Sabar adalah kekuatan kita, dimana rasa sabar dan syukur itu akan menuju ke kata Ikhlas..InsyaAllah.











10/08/10

Siapa yg sanggup mencegah Hidayah Allah SWT




Kita sering tidak tahu, di belahan bumi yang mana hidayah ALLAH akan menyapa.
Kita tak akan mampu menebak den
gan cara apa cahaya petunjuk itu datang.Namun...yang pas
ti tugas hamba adalah terus berusaha meretas jalan menuju ROBB.
Tiada lelah memperjuangkan selembar iman dengan segala daya.
Sebab, hidayah mahal harganyan sangat indah rasanya
Tercatat banyak sekali publik figur yg mendapat hidayah dari Allah SWT yakni menjadi mualaf dan menyatakan bahwa Islam is the
right way.

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu,dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridloi Islam jadi agama bagimu"(Q.S.Al_Maidah:3)

"Barang siapa yg Allah kehendaki akan memberikan petunjuk kepadanya,niscaya dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam"(Q.S.Al-An'am:125)
Subhanallah


Wahyu Suparno Putro
Nicholas Anelka

Sandrina malakiano



video

Bacaan Zikir setelah Shalat


Dzikir Setelah Sholat Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang melihat tulisan ini dari kalangan kaum muslimin “Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan setelah setiap shalat fardu membaca ASTAGHFIRULLAH tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan:

ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM
LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-
IN QADIIR, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

LAA ILAAHA ILLALLAHU, LAA NA'BUDU ILLA IYYAHU, LAHUN NI'MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA-UL HASAN, LAA ILAAHA ILLALLAHU, MUKHLISHIINA LAHUDDINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUN, ALLAHUMMA LAA MAA NI'A LIMAA A'THOITA, WA LAA MU'TIYA LIMAA MANA'TA, WALAA YANFA'DZAL JADDI MINKAL JADDU.

09/08/10

POHON IMAN DAN CABANGNYA




Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, dkk:

Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh
Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala yang berlipat.
Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.
Syaikhul Islam menyatakan, “Pokok keimanan itu di dalam hati, dan Iman itu adalah ucapan hati dan amalannya yang ditetapkan dengan pembenaran, kecintaan dan ketundukan. Keimanan yang bersemayam di dalam hati harus menampakkan konsekuensi dan kebutuhannya terhadap anggota tubuh. Jika tidak melaksanakan konsekuensi dan kebutuhannya, menunjukkan ketiadaan atau kelemahan iman.

“Iman itu ada 70 cabang lebih, paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan sifat malu merupakan cabang dari iman”.
(terjemah Hadits Riwayat Imam Muslim no.35,58)

Asyrof (1998) menyatakan:

Sekelompok ulama memaksakan diri untuk menghitung cabang-cabang iman dengan cara ijtihad. Secara hukum hal ini adalah suatu kehendak yang sulit, maka tidak tercela orang yang tidak mengetahui secara rinci tentang berapa batasan cabang keimanan ini. Pun tidak ada kesepakatan para ulama sehubungan dengan rincian tersebut.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran tentang rincian keimanan dan cabang-cabangnya adalah sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Hibban, namun kami tidak mencukupkan dengan keterangan dari pendapat beliau, berikut kami ringkas apa yang mereka sebutkan:

Beliau menyatakan:
“Cabang-cabang iman terbagi menjadi 3 cabang inti:
1. amalan hati
2. amalan lisan
3. amalan badan/ anggota tubuh

Tiga cabang ini terbagi menjadi beberapa cabang lagi.

Cabang iman dari amalan-amalan yang berhubungan dengan hati: adalah berkaitan dengan keyakinan-keyakinan (aqidah-aqidah) dan niat, mencakup 24 macam.

Iman kepada Allah, termasuk: iman terhadap Dzat Allah, sifat-sifat Allah, tauhid/mengesakan Allah bahwa Dialah Dzat dimana tidak ada satupun yang menyerupai-Nya dan meyakini bahwa selain Allah adalah ciptaan-Nya.
Beriman kepada malaikat Allah
Beriman kepada kitab-kitab Allah
Beriman kepada rosul-rosul Allah
Beriman terhadap taqdir Allah yang baik maupun yang buruk
Beriman terhadap hari kiamat, termasuk: pertanyaan malaikat di dalam kubur, adanya hari kebangkitan, hari perhitungan/pembalasan, adanya timbangan amalan, jembatan di atas neraka, beriman terhadap adanya surga dan neraka.
Cinta kepada Allah
Cinta dan benci karena Allah
Cinta kepada Rosulullah disertai keyakinan untuk mengagungkan beliau sesuai kedudukan beliau, termasuk bersholawat atas beliau dan mengikuti sunnah beliau.
Ikhlash, termasuk: meninggalkan riya’ (beramal untuk dilihat orang) dan nifaq (sifat munafiq)
Taubat
Takut akan adzab Allah
Mengharap ridha dan pahala dari Allah
Syukur kepada Allah
Memenuhi janji untuk taat kepada Allah dan yang lainnya.
Sabar
Ridha terhadap ketentuan Allah / takdir Allah.
Tawakal kepada Allah
Kasih sayang
Tawadhu’ hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda.
Meninggalkan perangai sombong dan ujub (ingin dipuji)
Meninggalkan dengki
Meninggalkan perangai marah
Amalan lisan, mencakup 7 macam yaitu:

Melafadzkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah
Membaca Al-Quran
Menuntut ilmu
Mengajarkan ilmu
Berdoa
Berdzikir termasuk istighfar
Menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat/senda gurau.
Amalan badan/anggota tubuh, mencakup 38 macam:

Amalan badan yang berkaitan dengan individu/ pribadi:
Mensucikan diri secara lahir maupun hukum. Termasuk: menjauhi perkara-perkara najis.
Menutup aurat.
Sholat wajib dan sunnah
Zakat.
Berbuat baik terhadap karib/ keluarga dekat.
Derma, termasuk: memberi makan orang lain atau memuliakan tamu.
Puasa wajib dan sunnah
Haji dan umrah
Thawaf
I’tikaf
Berusaha/ mencari mendapatkan malam lilatul qadar.
Hijrah karena ajaran agama, termasuk hijrah dari kampung kesyirikan menuju kampung yang muslim.
Memenuhi nadzar.
Berupaya untuk meraih tingkatan-tingkatan iman.
Membayar kafarat/denda
Amalan badan yang berhubungan dengan ittiba’/mencontoh Rosulullah ada 6 macam:
Berupaya untuk menikah
Melaksanakan hak-hak keluarga (istri, anak dan lainnya)
Berbakti kepada orang tua termasuk: tidak boleh durhaka kepada orang tua
Mendidik anak-anak
Menyambung tali kekerabatan/silaturrahmi
Taat kepada pemimpin
Berlemah lembut kepada orang lain
Amalan badan yang berhubungan dengan kemasyarakatan, ada 17 macam:
Menegakkan kepemimpinan yang adil.
Mengikuti al-jama’ah/kebenaran.
Taat kepada pemerintah muslim.
Mendamaikan antara pihak yang bertikai atau sebagai mediator untuk perdamaian, termasuk: memerangi Khawarij dan para pemberontak.
Tolong-menolong dalam hal yang baik, termasuk: amar-ma’ruf nahi mungkar.
Menegakkan hudud atau hukum-hukum Allah.
Jihad, termasuk berjaga-jaga di perbatasan musuh.
Menyampaikan amanat yang dibebankan kepadanya, di antaranya: membagikan 1/5 dari harta rampasan perang.
Pinjam meminjami dengan orang lain.
Membantu memuliakan tetangga.
Berbuat baik dalam bermu’amalah, termasuk: mengumpulkan harta yang halal.
Menginfakkan harta kepada yang berhak menerima, termasuk: tidak boleh berlebih-lebihan dalam berinfak yang bukan karena Allah.
Menjawab salam.
Mendoakan orang bersin.
Menolak gangguan dari orang lain.
Menjauhi hal-hal yang tidak ada manfaatnya.
Menyingkirkan duri dari jalan.
Keseluruhan jumlahnya adalah 69 cabang iman, bisa juga dihitung menjadi 79 kalau bagian-bagiannya dimasukkan pula.” Wallahu a’lam. (Fathul Bari 1/ 52-53)

Daftar Pustaka:

Perkara Keimanan yang Global dari Pokok-Pokok Aqidah Salafiyyah. Penyusun: Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah, Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. Diperiksa dan Disepakati oleh: Sejumlah Ulama dan Penuntut Ilmu. Diterbitkan oleh: Markaz Imam Albany Divisi Pengajaran Manhaj dan Riset Ilmiah Amman – Yordania 1421 H./2000 M. Dialihbahasakan oleh: Abu Salma bin Burhan al-Atsary. Dikoreksi oleh: Ust. Abu ‘Athiyyah, Lc., M.Ag. Disebarkan oleh :Lajnah Da’wah dan Ta’lim FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya.
At-Taudhihu wa Al-Bayanu li Syajarati Al-Imani, Tafsiruhu…Ushuluhu wa mawaduhu min Ayyi Syai-in Yustamadu Fawa-iduhu wa Tsamaratuhu. Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penyusun: Abu Muhammad Asyrof bin Abdul Maqsud. Penerbit: Adhwa-us Salaf 1419 H/ 1998 M. Edisi Indonesia: Manisnya Buah Keimanan. Penerjemah: Ahmad Khodimul Hannan. Murajaah: Ustadz Usamah Faishal Mahri. Penerbit: Cahaya Tauhid Press, 2004.

08/08/10

Derita memperkuat Iman



Sahabat yakinlah akan Rahmat-Nya, segala sesuatu hal adalah telah digariskan ketentuan oleh Allah SWT dan tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.


Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa (Bediuzzaman Said Nursi)


jangan sampai kita merasa sebagai orang yg menderita...karena semua status dunia, miskin, kaya, sakit dll adalah cobaan. Dan Allah SWT tdk akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya...
mengapa kehidupan saya saya begini, andai kemarin, coba jika waktu bisa dimundurkan...
semua ini adalah kata2 yang kurang...dalam rasa bersyukur dan bersabar, yang lama-kelamaan akan menimbulkan penyakit hati, kecewa, penyesalan dan yang sangat di takutkan jika berakhir ke rasa putus asa.

*Al Israa’ [17]: 83
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah ia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila ia ditimpa kesusahan niscaya ia berputus asa.{83}

dimana putus asa adalah saat yg tepat buat seytan menggoda manusia,dan lama kelamaan akan jatuh dalam jurang kemusrikan dan ke syirikan..ASTAGFIRULLAH

“Sungguh Allah SWT tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah SWT, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisaa’: 48)

maka rasa sabar dan syukur sangatlah penting untuk menuju ke kata Ikhlas
''Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.'' (QS Al-Baqarah: 45).

Berkata Ibnul Qoyyim tentang tanda-tanda kebahagiaan" sabar ketika ditimpa kekurangan, syukur ketika diberikan kelebihan, dan istighfar ketika berbuat dosa"

"Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur." (HR. Al-Baihaqi)

semoga kita selalu diberikan hidayah dan selalu berjalan di ke ridhoan-Nya...Amiin yaa Robal Alamin..

prayuza zafin Muhammad

Kumpulan sms pantun indah Ramadhan 2010





Menyambut Ramadhan tahun ini tidaklah terasa klop jika kita tidak mengucapkan selamat menyambut bulan suci ini kepada sanak family, sahabat.
bagaimana jika mereka jauh dan kita tidak sempat besilahturami secara langsung..?
ada banyak sarana untuk menyampaikan ucapan, seperti kartu ucapan, telepon, nah di zaman ini telah ada yg namanya layanan SMS, kita dengan mudah dan gampang mengirimkan pesan singkat kepada sahabat.
nah demikian juga dalam ucapan menyambut bulan Ramadhan ini, disini saya mengumpulkan beberapa sms pantun menyambut Ramadhan..semoga bisa bermanfaat...


sungguh indah sinar rembulan
memanjar lurus dari kejauhan
padamu tuhan kami kami mohonkan ampunan
beri kami kesempatan menyambut ramadan
(Indrawan irwan)

Kilau cahaya intan berlian
Bertahta berdamping diliontin
Bulan Ramadhan telah datang
Hamba mohon maaf lahir dan batin
(Netty Yanor)

puasa dahaga diujung kerongkongan
beduk magrib bertalu-talu mengalun
dalam langkah menuju kemenangan
ikhlas dan ketulusan mesti berhimpun

angan biar rindu mengambang
cari penyebab pembuat gundah
layar ramadhan dah terkembang
sambut maghfirah di bulan indah

si ikan patin lembut bertulang
didalam kolam umur seminggu
ramadhan datang menjelang
buka sahur senang di tunggu

melihat bulan isbat penentu
astronomi hitungan ilmunya
silaturahmi pererat menyatu
berbeda luar islam dalamnya
(said Hamzah Gazali)

kecubung pandan dari kalimantan
cantik disanding dengan berlian
berhubung seminggu lagi udah ramadhan
salah dan khilaf mohon dimaafkan
(Abdul Aziz)

Benang pengait dari rotan
di ambil anak di hutan selatan
senang sungguh bukan buatan
bertemu lagi dengan bulan ramadhan
(Shan-shan tye)

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang hanyut di muara
Ramadhan sudah di ambang pintu
Dengan sepuluh jari maaf pun dipinta
(harun YS)

sangatlah cantik kain pelekat
dipakai orang pergi kepekan
puasa ramadhan sudahlah dekat
salah dan khilaf mohon maafkan
(Kemas Amin Usman)

Ada sepohon buluh perindu
Ikan tamban timbul di kuali
Hampir setahun kita merindu
Bulan Ramadhan muncul kembali
(Seri Nuruddin)

Wangi Aroma Si Daun Pandan
Dijalin Dengan Bunga Melati
Mari Kita Sambut Ramadhan
Saling Maafkan Sucikan Hati
(Dian Eka)

syair dibaca bertutur teratur
kepada ALLAH kita bersyukur
bulan puasa sebagai pengukur
bersihkan diri dari takabur
(Ian Doank)

tari zapin rentak melayu
rentak langkah hitung delapan
bulan ramadhan diambang pintu
khilaf dan salah mohon dimaafkan
(Abdul Aziz)

lihat badan dalam perigi
tampak kilap si si ikan patin
Ramadhan sebentar lagi
mohon maafkan lahir bathin

sungguhlah tajam si ekor pari
jika terkena sakitlah seluruh badan
mari kita bersihkan hati tangisi diri
Ikhlaskan diri menyambut Ramadhan

kita semua adalah saudara seiman
meminta maaf janganlah malu
jika memang ada yg tak bekenan
sudahlah saya maafkan sejak dahulu

Manusia tempatnya khilaf dan dosa
mari kita melangkah dengan teliti
biar lebih khusyuk menjalankan puasa
saling bermaafan adalah obatnya hati
(prayuza ZM)

Mentari pun reduplah sudah
Kepenatan siang menutup kisah
Bulan Ramadhan menjelang sudah
Sibuk kan diri dengan amal ibadah
(Abdul Rachim Siraj)

Mencuci tangan di pinggir telaga
Pohon serumpun indah di tepiannya
Bulan suci Ramadhan hampirlah tiba
Mohon ampun maaf di pinta

anak melayu mengail ikan
perahu berlabuh ditengah lautan
sambil menunggu datangnya ramadhan
jari ku susun mohon ampunan

Semoga bisa bermanfaat , sekaligus mempertahankan budaya pantun yang hampir hilang dilindas zaman.
sumber:  PANTUN DAN GURINDAM (INDONESIA & MALAYSIA SERTA ASIA TENGGARA)



07/08/10

Segerakanlah Menikah..





hal-hal yang sebaiknya disegerakan dalam islam, diantaranya :

1.Segerakan shalat bila waktunya telah tiba.

2.Segera menikahkan anak gadis yang telah dipinang.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ( menikah ) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas ( pemberiann-Nya ) lagi maha mengetahui.” ( QS. An-Nur: 32 ).\

3.Segerakan menguburkan jenazah.

4.Segerakan membayar hutang bila cukup.

5.Segerakan bertaubat atas kesalahan.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. 2: 222)

6.Segerakan menghidangkan sajian untuk tamu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
( HR.Bukhari, Muslim )

semoga bermanfa
at buat kita..